Kalau lagi jalan-jalan ke daerah Batur, Kintamani, salah satu hal yang paling aku suka adalah nggak perlu punya rencana yang terlalu serius. Datang, lihat pemandangan, cari makanan enak, minum kopi, lalu kalau masih kuat jalan lagi.
Batur memang punya suasana yang beda. Udara lebih sejuk, pemandangannya cantik, dan pilihan tempat makan atau nongkrong juga makin banyak. Jadi selain datang buat menikmati pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur, perjalanan ke sini juga bisa diisi dengan agenda yang jauh lebih penting, yaitu makan.
Kali ini aku mampir ke beberapa tempat yang cukup menarik, mulai dari Kopi Danu, lanjut makan mujair nyat nyat Batur, lalu menikmati suasana di El Lago. Kombinasi yang menurutku lumayan lengkap. Ada kopi, ada ikan, ada pemandangan. Tinggal kurang satu, yaitu pulang tanpa kekenyangan.
Mulai Perjalanan dengan Kopi Danu

Perjalanan rasanya kurang lengkap kalau belum ketemu kopi. Apalagi kalau sedang berada di daerah yang udaranya sejuk seperti Batur.
Kopi Danu menjadi salah satu tempat yang menarik untuk disinggahi. Suasananya cocok buat berhenti sebentar setelah perjalanan sekaligus menikmati kopi sambil santai.

Yang aku suka dari ngopi di kawasan seperti ini adalah suasananya. Kopi yang diminum sambil melihat lingkungan sekitar terasa punya pengalaman yang berbeda dibandingkan minum kopi sambil duduk di rumah.

Padahal secara teori sama-sama kopi.
Tapi kalau minumnya sambil melihat pemandangan Batur, rasanya mendadak seperti orang yang hidupnya sudah tertata. Padahal nanti pulang juga masih mikirin mau makan apa.
Kopi Danu cocok buat dijadikan tempat istirahat sebentar. Nggak harus datang dengan agenda besar. Duduk santai, menikmati minuman, mengambil beberapa foto, lalu lanjut perjalanan.

Kalau akhirnya duduknya terlalu lama, ya itu bukan salah tempatnya. Berarti tempatnya terlalu nyaman.
Menu Makanan Kopi Danu

Menu Minuman Kopi Danu

Setelah Ngopi, Saatnya Cari Makan
Masalah setelah minum kopi biasanya sederhana: lapar.
Daripada melawan kenyataan, lebih baik sekalian cari makanan khas Batur. Salah satu menu yang menarik untuk dicoba tentu saja mujair nyat nyat.

Buat yang belum pernah mencoba, mujair nyat nyat merupakan salah satu hidangan khas Bali yang cukup terkenal, terutama di kawasan sekitar Danau Batur.
Ikan mujair dimasak dengan bumbu khas Bali yang kaya rasa. Ada sensasi gurih, pedas, dan rempah yang cukup terasa. Bumbunya juga menjadi salah satu bagian paling menarik karena rasanya cocok banget dimakan bersama nasi hangat.

Dan ini bagian yang cukup berbahaya.
Awalnya cuma berniat makan secukupnya.
Lima menit kemudian nasi sudah nambah.
Setelah itu mulai mengambil bumbu yang masih tersisa di piring karena sayang kalau dibuang.
Begitulah hidup. Kadang bukan karena lapar, tapi karena makanan terlalu enak untuk ditinggalkan.
Mujair Nyat Nyat Batur, Menu yang Wajib Dicoba
Kalau sedang berada di Batur, menurutku sayang kalau melewatkan kesempatan mencoba mujair nyat nyat.

Apalagi kalau mendapatkan ikan yang masih fresh. Tekstur ikan yang lembut dipadukan dengan bumbu khasnya membuat makanan ini cocok banget untuk disantap saat udara sedang dingin.

Makan makanan berbumbu kuat di tempat yang udaranya sejuk juga punya kenikmatan sendiri.
Nasi hangat, ikan mujair, bumbu nyat nyat, sambal, lalu suasana Batur yang dingin.
Sudah.
Diet besok saja.
Yang menarik, makanan seperti ini nggak perlu terlalu banyak tambahan. Justru rasa bumbunya sudah cukup menjadi daya tarik utama.
Kalau datang bersama teman atau keluarga, menu seperti mujair nyat nyat juga enak untuk dimakan bersama-sama. Satu piring bisa jadi rebutan, terutama bagian ikan yang dianggap paling enak.
Di situ biasanya persahabatan diuji.
Tapi karena ini artikel jalan-jalan, anggap saja semuanya berjalan damai.

Ini adalah tempat makan outdoor

Ini adalah tempat makan indoor
Lanjut ke El Lago
Setelah perut mulai tenang, perjalanan bisa dilanjutkan ke El Lago.

El Lago menjadi salah satu tempat yang menarik karena lokasinya menawarkan suasana yang cocok untuk menikmati kawasan Batur dengan cara yang lebih santai.
Kalau sudah selesai makan, tempat seperti ini cocok buat duduk sebentar. Nggak perlu buru-buru.

Apalagi kalau cuaca sedang cerah. Pemandangan sekitar Batur bisa menjadi teman nongkrong yang nggak pernah kehabisan bahan untuk dilihat.
Kadang kita datang ke tempat seperti ini awalnya cuma ingin sebentar.
Ternyata setelah duduk, pesan minuman, foto-foto, lihat pemandangan, akhirnya waktu jalan begitu saja.
Jam satu datang.
Tahu-tahu sudah sore.
Perut kenyang, galeri HP penuh, dompet sedikit berkurang.
Paket lengkap.

Pemandangan Batur Memang Susah Dikalahkan
Salah satu alasan kenapa perjalanan ke Batur terasa menyenangkan adalah pemandangannya.

Ada Gunung Batur, Danau Batur, perbukitan, dan suasana pegunungan yang memberikan nuansa berbeda dari kawasan Bali lainnya.
Di beberapa tempat, pemandangan seperti ini bahkan sudah menjadi bagian dari pengalaman makan dan nongkrong.
Jadi nggak perlu terlalu sibuk mencari hiburan.
Cukup duduk dan lihat sekitar.
Kalau kebetulan cuaca bagus, pemandangan bisa terlihat semakin jelas. Tapi namanya daerah pegunungan, cuaca juga nggak selalu bisa diajak kerja sama.
Kadang langit cerah.
Kadang mendung.
Kadang kabut datang tanpa undangan.
Tapi justru itu yang bikin suasananya terasa berbeda setiap kali datang.

Batur Cocok Buat Kulineran Santai
Menurutku, perjalanan ke Batur nggak harus selalu dibuat seperti lomba mengunjungi tempat sebanyak mungkin.
Lebih enak kalau dinikmati pelan-pelan.

Mulai dari ngopi di Kopi Danu, kemudian makan mujair nyat nyat, lalu mampir ke El Lago untuk menikmati suasana dan pemandangan.
Tiga tempat tersebut sudah cukup untuk membuat satu hari terasa penuh.
Dan tentu saja penuh di bagian perut.
Yang aku suka dari perjalanan seperti ini adalah setiap tempat punya suasana sendiri. Kopi memberikan waktu untuk santai, mujair nyat nyat memberikan alasan untuk makan lebih banyak, sedangkan El Lago cocok untuk menikmati suasana Batur.
Kombinasinya cukup masuk akal.

Walaupun kalau dipikir-pikir, dari awal sampai akhir sebenarnya kegiatan utamanya cuma makan dan minum.
Jangan Lupa Bawa Jaket
Satu hal yang jangan disepelekan kalau mau jalan ke Batur adalah udara.
Kalau terbiasa dengan cuaca panas, udara Batur bisa terasa cukup dingin, terutama pada waktu tertentu.
Jadi jaket sebaiknya masuk tas.
Jangan sampai datang dengan pakaian tipis sambil merasa kuat.
Lima belas menit kemudian mulai kedinginan.
Tiga puluh menit kemudian mulai mencari tempat duduk yang kena matahari.
Empat puluh menit kemudian mulai menyadari bahwa keputusan membawa jaket sebenarnya nggak akan pernah merugikan.
Jaket memang nggak keren kalau cuma disimpan di tas.
Tapi akan terasa sangat keren ketika badan mulai kedinginan.
Perjalanan yang Nggak Perlu Terlalu Ribet
Buat aku, salah satu keseruan jalan-jalan ke Batur justru karena nggak harus membuat rencana yang terlalu rumit.
Yang penting tahu mau menikmati apa.
Kalau ingin kopi, ada Kopi Danu.
Kalau lapar dan ingin mencoba makanan khas, ada mujair nyat nyat.
Kalau ingin menikmati suasana sambil melihat pemandangan, bisa mampir ke El Lago.
Sisanya tinggal menikmati perjalanan.
Nggak perlu setiap menit harus diisi kegiatan. Kadang justru bagian paling menyenangkan adalah ketika nggak melakukan apa-apa selain duduk, makan, minum, dan melihat pemandangan.
Toh, kita datang ke Batur memang bukan untuk mengejar target langkah kaki.
Penutup
Batur punya cara sendiri untuk membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Udara sejuk, pemandangan Gunung dan Danau Batur, makanan khas, serta tempat nongkrong dengan suasana yang menarik membuat kawasan ini cocok untuk perjalanan santai.
Kopi Danu bisa menjadi tempat untuk menikmati kopi dan beristirahat. Mujair nyat nyat Batur bisa menjadi pilihan ketika perut mulai minta perhatian. Setelah itu, El Lago bisa menjadi tempat untuk menikmati suasana dan pemandangan.
Kalau digabung dalam satu perjalanan, rasanya cukup lengkap.
Berangkat dengan perut kosong, pulang dengan perut kenyang.
Berangkat dengan galeri HP kosong, pulang dengan ratusan foto yang sebagian besar isinya pemandangan yang sama.
Dan yang paling penting, pulang membawa pengalaman.
Kalau besok tiba-tiba kepikiran mau ke Batur lagi, ya nggak masalah.
Berarti mujair nyat nyatnya belum selesai dipikirkan.
